Shohibul Azka Mahasiswa Ilmu al-Qur'an dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Doa Iftitah Lengkap Dengan Latin dan Terjemahnya

Doa Iftitah

Doa Iftitah merupakan sebuah doa yang dibaca pada waktu shalat, dimana pembacaan doa iftitah itu setelah membaca takbiratul ihram pertama kali memulai shalat.

Doa iftitah ini mengandung arti yang sangat bagus untuk memohon dan berharap kepada Allah SWT, dan bacaan doa iftitah ini mempunyai bermacam-macam ada yang pendek dan juga panjang.

Perlu diketahui bahwa shalat memiliki syarat-syarat dan rukun-rukun yang harus dikerjakan agar shalat tersebut sah. Selain itu, shalat juga memiliki sunnah-sunnah di dalamnya yang mana jika dikerjakan maka ibadah shalatnya akan mendapat nilai keutamaan yang lebih lagi.

Di antara sunnah-sunnah di dalam shalat tersebut adalah dengan membaca doa iftitah yang berarti doa pembuka.

Doa Iftitah Mengajarkan Kita Untuk Khusyu’ dalam Shalat

Sebelum menjelaskan keistimewaan doa iftitah, perlu diketahui bahwa doa tersebut merupakan doa pembukaan dalam shalat yang berisi pengakuan dan pernyataan seorang hamba kepada Tuhannya Yang Maha Agung bahwa hidup dan matinya serta segala macam ritual ibadah semuanya karena Allah.

Karena isinya demikian, maka hendaknya seorang hamba mempunyai adab saat tengah melakukan shalat. Sebab ia tengah berhadapan dengan Tuhan semesta alam. Jika ia mampu beradab di saat berhadapan dengan seorang pemimpin/penguasa dunia, maka sudah selayaknya ia harus lebih beradab pula kepada Allah.

Sebab Dia adalah Raja di atas raja, dan Penguasa di atas penguasa, yang memberikan kita kehidupan serta berbagai macam kenikmatan lainnya.

Imam al-Ghazali bahkan sampai mengutarakan dalam kitabnya, Ihya ‘Ulumuddin, bahwa jangan sampai engkau berdusta di hadapan Tuhan setelah engkau membaca doa iftitah. Dalam doa tersebut ia mengungkapkan berbagai macam pengakuan dan pernyataan, tetapi pada kenyatannya ia tidak mampu menghadirkan Tuhan di dalam hatinya.

Ia tidak merasa sedang berada dalam pengawasan Tuhan, dan juga tidak merasa bahwa ia sedang berada di hadapanNya. Sikap seperti inilah yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali sebagai pembohongan di dalam shalat yang dilakukan seorang hamba kepada Tuhannya.

Hal demikian tentunya sangat tidak diperkenankan. Yang seharusnya kita lakukan adalah mengagan-angani makna doa iftitah tersebut sembari menghadirkan Tuhan di dalam hati serta merasa bahwa kita sedang diawasi Tuhan dan sedang berada dalam pengawasannya, atau lebih simpelnya adalah berupaya khusyu’ di dalam shalat kita.

Bagi yang mampu mnghadirkan rasa khusyu’ di dalam hatinya, maka menurut  Q.S al-Mu’minun ayat 02, ia akan dimasukkan dalam kategori orang-orang mu’min yang beruntung.

Baca juga Doa Untuk Orang Tua

Keistimewaan Doa Iftitah

Dikutip dari situs Viva, bahwa manusia bisa membuka pintu langit dengan membaca doa Iftitah. Bagi umat Islam, tentu doa ini sangat mudah karena sudah sangat familiar. Bagaimana tidak, doa Iftitah biasa kita ucapkan pada rakaat pertama dalam setiap salat.

Kisahnya adalah ketika sahabat Nabi mengucapkan doa tersebut dalam salat. Seusai salat Nabi kemudian bertanya siapa yang membaca doa tadi. Beliau menjelaskan jika dirinya takjub karena doa ini mampu membuka pintu langit. Seperti apa lengkapnya? Berikut ulasannya.

Doa iftitah merupakan salah satu doa yang diinisiasi sahabat nabi ketika pelaksanaan shalat berjamaah. Namun karena keterpukauan Nabi terhadap doa ini, akhirnya bacaan doa iftitah mendapat legitimasi dari Rasulullah dan masuk dalam sunah yang dikerjakan dalam shalat.

Hadist shahih riwayat Imam Muslim mengungkapkan tentang sahabat yang menjadi makmuk Rasulullah membaca doa  hingga terdengar oleh jamaah di sampingya. Bacaan tersebut memiliki arti

“Sungguh Allah Maha besar, segala puji hanya bagiNya dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah di pagi dan petang hari”

Ternyata Rasulullah SAW mendengar doa yang dibaca tersebut kemudian  bertanya kepada para sahabat beliau.

“Siapa yang tadi mengucapkan kalimat ini dan ini?” Rupanya beliau mendengar doa itu.“Saya, ya Rasulullah,” jawab sahabat tadi. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku takjub dengan doa itu. Pintu-pintu langit dibuka karenanya.” (HR. Imam Muslim)

Berdasarkan ulasan di atas, dapat dikatakan bahwa keistimewaan dari doa iftitah adalah mampu membukakan pintu-pintu langit.

Baca juga Doa Sesudah Shalat Wajib

Bacaan Doa Iftitah

Doa Iftitah

Kyai Asnawi Kudus dalam kitab Fasholatannya menuliskan doa ifititah sebagai berikut:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً  .إٍنٍّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ . إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Allaahu akbaru kabiiraw walhamdu lilaahi katsiran, wa subhaanallaahi bukrataw wa’ashiila, innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifam muslimaw wamaa anaa minal musyrikiina. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiina. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiina.

Artinya: Allah maha besar dengan sebesar besarnya. Segala puji yang sebanyak banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang orang yang menyekutukanNya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagiNya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang orang yang berserah diri.

Keterangan doa iftitah di atas juga bisa kita temukan dalam kitab al-Adzkar yang dikarang oleh Imam al-Nawawi. Namun, selain doa atas, Imam al-Nawawi juga menambahkan doa berikut:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. أَنْتَ رَبِّى وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْ لِى ذُنُوبِى جَمِيعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ . وَاهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Allahumma antal Maliku La ilaha illa Anta. Anta Robbii wa ana ‘abduka dzolamtu nafsii wa’taraftu bidzambi faghfir lii dzunubi jami’an. innahuu la yaghfirudz dzunuuba illa Anta. Wahdinii li ahsanil akhlaqi laa yahdi li ahsanihaa illa anta. Washrif ‘anni sayyi’ahaa laa yashrifu ‘anni sayyi’ahaa illa Anta. Labbayka wa sa’dayka wal khoiru kulluhuu fi yadayka wasy syarru laisa ilaika. Ana bika wa ilaika tabaarokta wa ta’alaita astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Artinya: Ya Allah, Engkaulah Dzat yang merajai. Tiada yang berhak disembah selain Engkau, Rabbku. Akulah hamba-Mu. Aku telah menganiaya diriku sendiri. Aku mengakui dosa-dosaku. Maka ampunilah seluruh dosaku. Sebab tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling mulia yang tidak dapat menunjukkannya kecuali Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak buruk yang tidak dapat menjauhkannya kecuali Engkau. Aku mematuhi dan mengikuti perintah-Mu. Segala kebaikan ada di dalam genggaman-Mu. Segala keburukan tidak mengarah kepada-Mu. Aku bersandar dan berlindung kepada-Mu. kebaikanMu semakin bertambah dan Engkau Maha Tinggi. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ . اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ . اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Alloohumma baa’id bainii wa baina khothooyaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghrib. Alloohumma naqqinii minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minad danas. Alloohummaghsil khothooyaaya bil maa-i wats tsalji wal barod

Artinya: Ya Allah jauhkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana engkaujauh kan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana bersihnya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah cucilah aku dari dosa-dosaku dengan air, salju dan embun.

Menurut Imam al-Nawawi, ketiga doa iftitah di atas merupakan doa yang diambil dari riwayat hadits yang shahih. Kita diperbolehkan untuk memilih salahsatu di antara ketiganya. Namun kita juga diperbolehkan menggabungkan ketiganya, sesuai urutan doa di atas.

Shohibul Azka Mahasiswa Ilmu al-Qur'an dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *