Shohibul Azka Mahasiswa Ilmu al-Qur'an dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Doa Berbuka Puasa Yang Shahih

Doa Berbuka Puasa Yang Shahih

Dalam ulasan kali ini, penulis akan membahas tentang doa berbuka puasa yang shahih menurut hadist Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana diketahui, bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan suci yang mana umat Islam diwajibkan berpuasa tatkala menjumpainya.

Umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Namun, puasa diwajibkan untuk seseorang apabila ia telah memenuhi syarat-syaratnya, yang mana di antaranya adalah beragama Islam, mukallaf (mempunyai akal dan mencapai usia dewasa), dan lain sebagainya.

Selama berpuasa, tentunya ada hal yang kita tunggu, apalagi kalau bukan hari raya ‘idul fithri dan azan maghrib untuk berbuka puasa. Ya yang biasa ditunggu oleh kita selama berpuasa adalah kedua hal tersebut.

Namun, saat berbuka puasa, masih banyak orang yang langsung menyantap hidangan buka puasa tanpa mengucapkan basamalah dan doa berbuka puasa terlebih dahulu.

Tergesa-gesa seperti itu hingga melalaikan baca basmalah dan berdoa tentunya akan mengurangi nilai keberkahan dalam menikmati hidangan tersebut.

Tentunya temen-temen sekalian tidak mau bukan? Masa iya sudah capek-capek menahan rasa haus dan lapar, gara-gara tergesa-gesa sampai melupakan membaca basmalah dan doa sehingga nilai keberkahan hidangan berbuka puasa menjadi berkurang.

Oh tentu ini sangat merugikan! Apalagi kalau mengingat bulan puasa adalah bulan di mana kita panen pahala, tentu seharusnya temen-temen  tidak mau meninggalkan membaca basmalah dan doa berbuka puasa.

Doa Doa Berbuka Puasa Yang Shahih dan Benar

Nah, bagi temen-temen yang belum hafal, tidak usah hawatir. Berikut ini penulis akan menuliskan doa berbuka puasa yang shahih menurut hadits Nabi Muhammad saw lengkap dengan latin dan terjemahanya. Berikut ini adalah doanya:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah

Artinya: “Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki](Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678).

Doa Buka Puasa Yang Terkenal di Masyarakat

Selain doa di atas, ada pula doa lain yang umumnya dibaca oleh masyarakat muslim di Indonesia. Doa tersebut nampaknya lebih masyhur dibandingkan doa yang tersebut di atas. Berikut ini adalah doanya:

ُاللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت

Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu

Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka.”

Memang sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa redaksi doa tersebut diambil dari riwayat yang lemah di mana yang meriwayatkannya adalah Abu Daud. Meski demikian, doa tersebut bukan berarti tidak boleh diamalkan.

Sebab, dalam masalah doa, termasuk doa berbuka puasa senin kamis atau rajab, kita diperbolehkan berdoa dengan redaksi apapun, asalkan isi dari doa tersebut berupa kebaikan.

Jika memilik arti dari doa yang sedang dibahas ini, tentunya doa tersebut memiliki isi yang sangat baik untuk diajukan kepada Allah. Dan dengan demikian, doa tersebut boleh kita amalkan.

Doa Berbuka Puasa Menurut Syekh Sulaiman Bujairimi

Namun, ada himbauan dari Syekh Sulaiman Bujairimi. Dalam kitabnya ia menganjurkan untuk menggabungkan antara  kedua doa tersebut dengan sedikit tambahan kata. Beliau mengatakan:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ ويسن أن يزيد على ذلك وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

“(Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu) dianjurkan menambahkan lafal, wa bika âmantu, wa bika wa ‘alaika tawakkaltu. Dzahabaz zhama’u, wabtallatil ‘urûqu, wa tsabatal ajru, insyâ Allah. Yâ wâsi‘al fadhli, ighfir lî. Alhamdulillâhil ladzî hadânî fa shumtu, wa razaqanî fa afthartu,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Artinya, “Tuhanku, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Sebab dan kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah. Dan insya Allah pahala sudah tetap. Wahai Zat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya.”

Dari penjelasan Syekh Sulaiman Bujairimi tersebut dapat disimpulkan bahwa boleh menggabungkan dua doa dari riwayat yang berbeda di atas.

Kesimpulan berikutnya adalah bahwa bagi seseorang yang ingin mengamalkan bacaan doa berbuka puasa, maka ia diperbolehkan mengamalkan salahsatu dari dua doa di atas.

Namun, jika ingin menggabungkannya, maka hal tersebut juga baik, sebagaimana menurut Syekh Sulaiman Bujairimi tadi. Alangkah baiknya bagi kita umat Islam untuk tidak memperbesarkan perbedaan tersebut.

Sebab, pada hakikatnya, kita berdoa dengan redaksi apapun itu diperbolehkan, asalkan isi yang terkandung di dalamnya berupa nilai-nilai kebaikan.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Dan bagi yang mengamalkannya, semoga Allah swt memberi keberkahan yang berlipat untuk puasanya. Amiiin…

Shohibul Azka Mahasiswa Ilmu al-Qur'an dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *